Minggu, 1 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
akumano-pooh.comakumano-pooh.com
akumano-pooh.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Katanya Ibu Rumah Tangga Susah Kerja? Itu Cuma Mit...

Katanya Ibu Rumah Tangga Susah Kerja? Itu Cuma Mitos, Bun

Banyak mitos soal ibu rumah tangga yang mau kembali kerja. Padahal sebagian besar cuma asumsi yang bikin kita ragu melangkah.

Katanya Ibu Rumah Tangga Susah Kerja? Itu Cuma Mitos, Bun

Beberapa waktu lalu gue ngobrol sama temen lama di warung kopi. Dia cerita kalau dia pengin banget balik kerja, tapi selalu ketahan sama satu kalimat yang sering dia dengar: "Ah, kamu kan udah lama di rumah, susah nyesuaiinnya." Kalimat itu bukan datang dari HRD, bukan dari atasan, tapi dari tetangga dan saudara sendiri. Lucu ya, kadang orang paling rajin bikin kita ragu justru yang nggak pernah baca lowongan kerja.

Nah, dari situ gue kepikiran buat ngebahas beberapa mitos yang beredar di kalangan ibu rumah tangga soal dunia kerja. Banyak yang bikin kita mundur sebelum nyoba. Padahal kalau ditelusuri, sebagian besar cuma asumsi warisan yang nggak pernah dicek kebenarannya.

"Kalau Udah Lama di Rumah, CV-nya Jadi Kosong"

Ini mitos paling populer. Seolah-olah kalau kamu nggak punya jabatan formal selama beberapa tahun, hidupmu berhenti dan nggak ada yang bisa ditulis di CV. Padahal yang dicari perusahaan bukan cuma deretan jabatan, tapi kemampuan nyelesaiin masalah.

Coba inget lagi apa aja yang kamu kerjain selama di rumah. Ngatur keuangan keluarga? Itu skill budgeting. Ngurus jadwal anak, sekolah, dokter, dan urusan rumah tangga lainnya? Itu manajemen waktu dan koordinasi. Bantuin usaha kecil tetangga atau jualan online? Itu pengalaman wirausaha, walau skalanya kecil.

Baca juga: Hati-Hati, 4 Sinyal Ini Sering Muncul di Wawancara Kerja buat Kamu yang Sering Traveling

Gue pernah baca cerita seorang ibu yang akhirnya keterima kerja di bagian administrasi karena dia bisa nunjukin kalau dia pernah ngurus pembukuan sederhana buat warung keluarganya. Kuncinya bukan punya pengalaman besar, tapi bisa menerjemahkan pengalaman sehari-hari jadi bahasa yang dimengerti HRD. Jadi jangan buru-buru merasa CV-mu kosong. Mungkin kamu cuma belum tahu cara nulisnya.

"Ibu Rumah Tangga Nggak Punya Networking"

Mitos kedua yang sering bikin nyerah sebelum mulai. Katanya, karena nggak pernah masuk kantor, nggak punya kenalan yang bisa bantu cari kerja. Padahal jaringan itu nggak harus dari kantor.

Komunitas arisan, grup WhatsApp sekolah anak, paguyuban RT, temen les anak, mantan rekan kerja lama yang masih nyambung — semua itu jaringan. Gue kenal seorang ibu yang dapet kerja part-time di klinik gigi gara-gara obrolan sama ibu lain di acara sekolah. Nggak ada yang formal, cuma ngobrol biasa, tapi jadi jalan.

Yang penting sebenarnya bukan seberapa banyak kenalan, tapi berani bilang kalau kamu lagi cari kerja. Banyak ibu rumah tangga malu ngomong soal itu karena takut dianggap "kurang fokus ngurus anak". Padahal kalau nggak bilang, ya nggak ada yang tahu kita butuh.

"Jaringan itu bukan cuma soal siapa yang kamu kenal, tapi siapa yang tahu kamu sedang mencari peluang."

"Wawancara Kerja Buat Ibu Rumah Tangga Pasti Ditanya Soal Anak Terus"

Ini yang paling bikin deg-degan. Banyak yang bayangin wawancara bakal jadi sesi interogasi soal siapa yang jaga anak kalau kamu kerja. Kenyataannya, nggak semua perusahaan begitu. Pertanyaan soal keluarga biasanya muncul bukan buat ngejegal, tapi buat mastiin kamu punya rencana yang jelas.

Yang Sebenarnya Ditanya Pewawancara

Biasanya mereka pengin tahu satu hal: apakah kamu siap dan bisa berkomitmen. Kalau kamu jawab dengan tenang, misalnya "anak sudah ada yang jaga, saya sudah atur jadwalnya", itu justru bikin pewawancara tenang. Yang bikin masalah itu kalau kita sendiri kelihatan ragu atau nggak siap.

Gue pernah denger cerita dari temen HRD. Katanya, kandidat yang bikin dia yakin justru yang bisa jawab santai soal pembagian tugas di rumah. Bukan yang pura-pura bilang "anak bukan masalah", tapi yang punya rencana konkret. Jadi sebelum wawancara, siapin jawaban jujur soal ini. Nggak perlu bertele-tele, cukup jelas dan tenang.

"Balik Kerja Setelah Lama di Rumah Berarti Mulai dari Nol"

Ini mitos yang paling sering bikin orang nggak jadi melamar. Seolah-olah kalau udah lama nggak kerja formal, kamu harus mulai dari gaji paling bawah dan posisi paling junior. Padahal nggak selalu begitu.

Banyak perusahaan sekarang lebih fleksibel. Ada yang nawarin posisi part-time, remote, atau kontrak dengan jam yang bisa disesuaikan. Ada juga yang lebih lihat ke skill daripada ke berapa lama kamu "nganggur" dari dunia kantor. Yang penting kamu bisa nunjukin kemampuan dan mau belajar hal baru.

Gue sendiri sempat mikir begitu waktu dulu. Rasanya kayak harus ngulang dari awal banget. Tapi setelah nyoba beberapa kali, ternyata yang bikin susah itu bukan pengalaman yang kurang, tapi kebiasaan meremehkan diri sendiri sebelum dicoba. Kita sering kalah sama suara di kepala sendiri, bukan sama kenyataan di lapangan.

Jadi kalau kamu sekarang lagi mikir buat balik kerja, coba cek lagi alasan-alasan yang bikin kamu ragu. Apakah itu benar fakta, atau cuma mitos yang kebetulan sering kamu dengar? Karena kadang, yang menghalangi kita bukan pintu yang terkunci, tapi kita yang belum pernah benar-benar nyoba buka.

Nggak ada salahnya mulai dari langkah kecil: perbarui CV, tanya temen soal lowongan, atau sekadar latihan jawab pertanyaan wawancara di depan cermin. Kalau ternyata ditolak, itu bukan bukti kamu nggak capable. Itu cuma berarti belum ketemu tempat yang pas. Dan itu berlaku buat semua orang, bukan cuma ibu rumah tangga.

Tags: ibu rumah tangga dunia kerja karier wawancara kerja mitos karier