Ada satu momen di tahun 2019 yang masih nempel banget di kepala gue. Gue baru saja keluar dari ruang wawancara sebuah perusahaan FMCG di Jakarta Selatan. Duduk di lobi, tangan masih gemetar, sambil buka HP dan lihat email penolakan dari perusahaan sebelumnya yang masuk dua hari lalu. Total saat itu udah enam penolakan. Dan yang barusan gue jalanin? Berakhir jadi yang ketujuh.
Kalau kamu pernah ngerasain ditolak berkali-kali padahal udah ngerasa "ini pasti dapat", kita satu frekuensi. Dan tulisan ini bukan buat nyuruh kamu "semangat ya" doang. Gue mau cerita apa yang beneran berubah dari cara gue lihat wawancara setelah tujuh kali kena tolak.
Baca juga: Tiga Bandara, Dua Wawancara: Cerita Job Seeker yang Tak Pernah di Rumah
Penolakan Pertama Sampai Ketiga: Gue Pikir Masalahnya di CV
Ditolak pertama kali, reaksi gue standar: "Berarti CV gue kurang menjual." Jadi gue rombak CV. Tambah sertifikasi, ganti format, bikin portofolio lebih tebal. Ditolak lagi. Tambah sana-sini lagi. Ditolak lagi.
Yang nggak gue sadari waktu itu: gue sibuk benerin dokumen, padahal yang bermasalah adalah cara gue ngobrol di ruang wawancara. Gue terlalu hafal jawaban. Setiap pertanyaan dijawab kayak baca teks. Recruiter pasti ngerasa ada yang aneh, meskipun mereka nggak akan pernah bilang terus terang.
"Kamu jawabannya bagus, tapi kayak udah disiapin banget. Ada cerita yang lebih personal nggak?" — pertanyaan ini dari HR di wawancara keempat, dan jadi titik balik gue.
Apa yang Berubah Setelah Gue Berhenti "Menjual Diri"
Wawancara keempat itu gagal juga, kalau kamu penasaran. Tapi pertanyaan HR tadi nempel. Gue mulai mikir: selama ini gue masuk ruang wawancara dengan mindset jualan. Kayak sales nawarin produk. Padahal wawancara kerja itu lebih mirip kencan pertama — dua pihak lagi cek cocok atau nggak.
Sejak itu gue ubah pendekatan. Beberapa hal yang gue lakuin:
- Berhenti hafal jawaban. Gue ganti dengan nyiapin poin-poin cerita. Jadi kalau ditanya soal konflik tim, gue cerita kejadian nyata, lengkap dengan bagian gue salahnya di mana.
- Nanya balik dengan pertanyaan yang beneran gue pengen tahu jawabannya. Bukan pertanyaan template "bagaimana budaya kerja di sini". Tapi misalnya, "Kalau ada deadline yang nggak realistis, biasanya tim ini handle-nya gimana?"
- Terima kalau nggak cocok. Ini yang paling berat. Kadang kita pengen banget kerja di perusahaan X, padahal nilai kerjanya nggak sejalan sama kita. Dan itu bukan kegagalan.
Soal "Fit" yang Sering Disepelekan
Dari tujuh penolakan, gue sadar satu pola: perusahaan yang nolak gue dengan alasan "belum cocok" biasanya punya gaya kerja yang emang nggak pas sama gue. Ada yang budaya-nya super hierarkis. Ada yang semua keputusan harus lewat tiga lapis approval. Kalau gue dipaksa masuk ke sana, mungkin gue yang bakal resign duluan dalam tiga bulan.
Jadi waktu penolakan kedelapan datang, gue udah nggak terlalu hancur. Gue baca ulang emailnya, tarik napas, dan lanjut kirim lamaran ke tempat lain. Dua minggu kemudian, wawancara di perusahaan yang sekarang gue kerjain berjalan beda banget. Obrolannya santai, tapi dalem. Recruiter-nya nanya hal-hal yang bikin gue mikir, bukan cuma jawab iya-tidak. Dan gue keluar dari ruangan itu dengan perasaan, "Ya udah, kalau nggak dapat juga, setidaknya obrolannya enak."
Seminggu kemudian gue dapat offering letter.
Gimana Cara Bertahan Saat Penolakan Datang Terus
Gue nggak akan pura-pura bilang prosesnya gampang. Ada masa di mana gue males buka laptop karena takut lihat email masuk. Tapi ada beberapa hal yang bantu gue bertahan, dan mungkin bisa kamu coba:
Pertama, pisahkan harga diri dari hasil wawancara. Ini klise tapi beneran perlu. Kamu bukan kegagalan cuma karena satu perusahaan nggak milih kamu. Mereka milih berdasarkan kebutuhan mereka, bukan nilai kamu sebagai manusia.
Kedua, minta feedback kalau memungkinkan. Nggak semua recruiter mau kasih, tapi kalau dapat, catat. Dari feedback inilah gue tahu kalau gue waktu itu terlalu banyak ngomong "saya" dan kurang ngasih contoh konkret.
Ketiga, jaga rutinitas di luar pencarian kerja. Gue waktu itu mulai lari pagi dan ikut kelas fotografi online. Kedengeran nggak nyambung, tapi punya aktivitas yang nggak berkaitan sama kerja bikin gue nggak obsesif sama hasil lamaran.
Pelajaran yang Gue Bawa Sampai Sekarang
Kalau ada satu hal yang gue pengen kamu bawa dari cerita ini: wawancara kerja itu bukan ujian yang harus kamu lewati dengan nilai sempurna. Ini lebih ke percakapan buat cari tahu apakah kamu dan perusahaan itu bisa saling bantu. Kalau jawabannya nggak, ya nggak apa-apa. Ada tempat lain yang lebih pas.
Dan soal tujuh penolakan tadi? Sekarang gue lihat sebagai investasi. Tiap penolakan ngasih gue informasi soal diri gue sendiri yang nggak akan gue dapat kalau semuanya lancar dari awal. Jadi kalau kamu lagi di tengah fase penolakan, sabar. Bukan berarti kamu kurang. Mungkin aja kamu lagi diarahkan ke tempat yang beneran cocok.